About Me : Hope and Struggle

About Me : Hope and Struggle

Oleh: Siti Chusnia

Tulisan ini kubuat untuk turut memperingati hari guru nasional 25 Nopember 2015. Tulisan tentang bagaimana perjalanan menjadi seorang guru dari perempuan berpostur kecil kelahiran Pamotan, kabupaten Rembang, 22 tahun silam.

Setiap guru punya kisahnya sendiri bagaimana perjalanan dan perjuangannya hingga pada akhirnya mereka menjadi. Ada yang bilang profesi guru itu keturunan. Orang tuanya guru, anaknya jadi guru. Beberapa memang kutemui hal semacam itu. Tapi tak semuanya. Ada yang menjadi guru karena memang sudah citanya dari kecil ingin menjadi guru. Ada yang menjadi guru honorer bertahun-tahun tapi tetap bertahan dengan profesi mulianya. Ada berbagai kisah tentang guru.


Siti Chusnia, alumni SMA N 1 Pamotan, saat wisuda baru-baru ini di UNNES
Kali ini aku akan bicara tentang aku. Bagaimana kisahku bisa menjadi seorang guru, cita kecilku dulu. Aku yang beruntung diantar tiga saudaraku yang mengenyam pendidikan universitas karena rahmat Allah yang kuterima berupa beasiswa Bidikmisi. Yak, karena beasiswa itu aku bisa kuliah yang tak pernah kubayangkan nasib baik itu kuterima.

Aku, anak bungsu dari empat bersaudara yang kesemuanya perempuan, yang kini ternyata menjadi seorang guru. Pengajar SM3T di SD Negeri 18 Temahar di kampung Temahar, kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Siapa sangka profesi mulia itu bisa kusandang. Yak, banyak yang bilang katanya guru itu pekerjaan yang mulia. Mungkin karena ada kalimat yang dulu saat SD, SMP, dan SMA kutulis sebagai alasan mengapa bercita-cita menjadi guru. 'GURU ADALAH PAHLAWAN TANPA TANDA JASA'. Memang sangat klise kubilang satu kalimat itu jika direlevansi dengan kondisi kekinian. Sertfikasi dan berbagai tunjangan untuk guru pns kupikir itu sudah tak mewakili kalimat itu. Beda lagi ceritanya kalau dikaitkan dengan guru honorer. Ada sedikit relevansinya lah dengan kalimat yang kubilang klise itu. Banyak nasib guru honorer yang memprihatinkan kubaca dari beberapa tulisan yang di share kawan di fb tentang sosok guru honor.

Aku pernah share kisah itu di kronologiku. Aku pun sebenarnya juga tak ingat dapat dari mana aku kalimat 'klise' itu yang akhirnya menjadi alasan jitu saat ditanya kenapa bercita-cita menjadi guru.
Yak, kembali tentang aku. I have my own story on how becoming a teacher. Kenapa selalu guru yang kutulis di kolom cita2 saat proses orientasi di manapun, SD, SMP, SMA, sebenarnya aku juga tak sadar mengapa. Hanya "guru" yang terlintas di pikiranku saat diminta menulis apa cita2 kamu oleh guru di sekolah dasar dan menengahku. I dont know why exactly.

Tak terlintas sedikitpun jika cita masa kecil itu bisa menjadi nyata karena aku sadar kondisi ekonomi keluarga sepertinya tak memungkinkan aku mencapai bangku kuliah lalu lulus dan menjadi guru seperti saat ini. Bapakku hanya bekerja sebagai pedagang pakaian laki-laki di pasar tradisional. Hanya moment tertentu jualan bapakku laris, seperti moment mendekati lebaran. Selain moment itu, sepi. Aku tahu itu karena dulu sebelum kuliah aku sering membantu bapakku berjualan di pasar jika lebaran sudah dekat karena sekolah pun juga libur. Jika lebaran sudah usai, satu potong pakaian terjual pun sudah sangat bersyukur. Itulah bagaimana menjadi pedagang pakaian seperti bapakku. Tapi aku tak pernah melihat rona susah di wajah bapakku tiap kali siang beliau sampai di rumah usai jualan. Bapakku memang hebat. Tak pernah marah. Tak pernah mengeluh. Aku belajar tentang hidup dan kehidupan yang damai dari bapakku. Tak pusing memikirkan yang belum pasti terjadi. Jalani hidup yang memang harus dijalani. Tak ada kekhawatiran hidup susah, uang habis, bayar sekolah anaknya. Bapakku menjalani hidupnya dengan qonaah semasa hidupnya. He is my hero. He so awesome. I do hope get a man like him, hehe.

Ibuku bukan carrier woman. Beliau adalah istri dan ibu yang luar biasa mendidik anaknya tentang displin. Kalau saja bangun shubuh telat, sudah tentu lah telingaku akan mendengar omelan tanda sayang emakku kepada anaknya. Kalau ku bilang bapak mamakku ini memang pasangan yang cocok, saling melengkapi. Tumbu oleh tutup kalau orang Jawa bilang. Bapak cenderung diam. Emak lah yang sering membuka pembicaraan. "Koe nang semarang, ina (kakak ketigaku) nang toko. Wong loro tok nang omah. Nag aku gak ngomong bapakmu yo gak ngomong. Paling tak takoni sik piye mai nang pasar. Nembe bapakmu ngomong", cerita emakku saat ku sedang di rumah, libur kuliah. Aku memang masih ingat apa kata emakku itu. Itulah. My owesome parents.

Kembali pada aku. Aku yang jadi guru sekarang. Jujur, tak ada rasa membanggakan diri, aku selalu berusaha menjadi juara kelas. Itu adalah ukuran persembahan buat orang tuaku. Harapku, bapak dan emak bahagia dengan prestasiku di sekolah. Aku pun juga tak tahu bagaimana dulu aku bisa meraih predikat juara kelas itu, baik di sekolah dasar maupun menengah. Ku bersyukur Allah memberi otak yang mampu menerima pelajaran dari guru di sekolah. Seingatku, aku memang rajin mengerjakan tugas. Belum disuruh mengerjakan saja sudah kukerjakan lebih dulu soal2 di lks. Pikirku, nanti aku di kelas tinggal santai disaat kawan2 sibuk mengerjakan soal itu. Kalau tiba saat ujian semester, aku bangun jam 3, sholat, lalu melanjutkan belajar bahan ujian yang juga kupelajari malamnya. Tak ada nonton tv kalau ujian. Paling sebentar saja, tombo pengen, hehehe. Kujuga berusaha aktif di kelas. Itulah yang membuatku bisa kenal dan dikenal beberapa guruku. Yak, aku memang paling tidak bisa diam. Kalau diam, rasanya lidah gatal dan mulut ingin mengeluarkan kata. Haha.

Aku sangat bahagia nama orang tuaku disebut saat perpisahan SD dan SMP serta pengumuman juara kelas di madrasah diniyah. Yak, selain sekolah pagi, aku juga sekolah sore. Itu didikan orang tuaku. "SITI CHUSNIYAH PUTRA BAPAK MAWARDI DAN ZAENAB". Hehehehe. Kebahagiaan juga kurasa saat kumasuk SMA dan ternyata masuk the big three. I got scholarship. Bebas biaya pembangunan. Kuberusaha pertahankan prestasi untuk tetap dapat beasiswa selama aku SMA N 1 Pamotan. Lumayan bantu2 bapak bayar biaya spp. Belajar dan belajar. Faktor lain kenapa aku berusaha keras mempertahankan prestasi adalah rasa malu. Dua kakak perempuanku juga sekolah di sekolah yang sama denganku. Prestasi mereka baik. Aku malu jika tak bisa minimal sebaik mereka atau maksimal bisa lebih baik dari mereka. Para guru akan mebanding-bandingkan kupikir kala itu jika prestasiku di sekolah tak seperti kedua kakakku. Yak, sebuah beban yang menjadi motivasi berprestasi kupikir.

Usahaku diliputi rahmat Allah. Alhamdulillah beasiswa keringanan bayar spp kuterima selama aku SMA N 1 Pamotan. Nah, inilah mulai dekat dengan tahap nasib dan takdirku menjadi guru. Guru BK, pak Cahyo, mendata nama anak yang bagus nilai raportnya untuk didaftarkan seleksi masuk perguruan tinggi. Bidikmisi. Itulah pintu gerbangku memasuki dunia perguruan tinggi, Universitas Negeri Semarang. Tentang perjalanan lolos bidikmisi sepertinya kukisahkan di tulisan lain. Its too long i feel.
Kuliah-ppl-kkn-skripsi-lulus-SM3T-Guru Temahar.

Itu resum bagan perjalanan menjadi guru. Ternyata ada S.Pd sekarang di akhir namaku. Ah aku tak begitu wah dengan gelar itu. Aku hanya harus menjalani profesi guru itu dengan penuh dedikasi. Ada tanggung jawab dibalik gelar yang kau miliki. Amanah. Semoga.

Cerita dalam bagan itu, kapan2 kalau sedang encer otaknya untuk nulis, kubagi lah ke kalian.
Tulisan ini tak ada sedikitpun niat riya', sombong, dsb. I just want to share. May inspiring. Maaf jika ada kata yang tak berkenan di hati para pembaca tulisan ini. Aku mung menungso. Menus menus kakean doso. Yak, aku hanya manusia biasa yang berusaha menjalani hidup dengan damai. No anxiety about future cause He know what we need not what we want. He knows best for us. Allah SWT. Yang perlu kita lakukan adalah berusaha yang terbaik di bidang yang kita geluti. Masalah hasil kita kembalikan pada sang khalik. Jalan dan hidup mudah nan berkah akan kita dapat kalau kita selalu terpaut dan menyandarkan semuanya kepada-Nya. Itu yang kupelajari dari seorang guru luar biasaku, dosen waliku, dosen pembimbing skripsiku.

Temahar, 25 Nopember 2015

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama