Galery

Galery
Genre Musik Pilpres 2019

Genre Musik Pilpres 2019

Hip Hop Lib, 2017
Genre musik apa yang kira-kira ramai menjelang  pilpres 2019? Jawabnya genre HIP HOP. Mengapa bukan dangdut? Mau tahu tanda-tanda dan buktinya?

Mulai dari anak SD hingga Lansia pasti tahulah kalau Jakowi akan maju lagi. Buktinya mudah, karena Jakowi badannya kurus. Hehehe... Logika umum, badan kurus itu prihatin. Beda kalau badan besar, pasti makannya banyak. Kalau makannya banyak pasti yang dipikirkan makanan saja, alias tidak memikirkan apa amanat yang harus diselesaikannya.

Urusan siapa menjadi pendamping Jakowi, semua juga sudah tahu. Pasti Megawati memutuskannya menjelang detik-detik akhir penyerahan berkas. Apakah Prabowo yang menjadi capresnya? Mungkin tidak dan mungkin iya. Apakah Cak Imin? Tentu jawabnya mungkin tidak dan mungkin juga iya. Yang jelas ketika publik ditanya siapa capres Jakowi nanti, pasti publik ingat Ahok. Hehehe...

Lalu bagaimana posisi ormas garis keras dan ormas garis lemah, hingga ormas yang moderat? Hehehe....

Hari ini publik melihat, Jakowi cukup cerdas. Entah salah atau sebaliknya, benar, bahwa pilpres 2019 bukan miliknya ormas garis keras. Dengan Perpu sucinya kemarin, tampak Jakowi melakukan peminggiran ormas garis keras. Walaupun demikian, ormas garis keras tetap dinamis di perkotaan. Mengapa? Jawabnya mudah. Karena pilgub DKI kemarin, ormas garis keras banyak jasanya dengan Anis. Tapi ingat, walaupun hanya berdiam di perkotaan, tapi punya suara. Jadi jawabnya, ormas garis keras tetap menjadi komoditas yang menawan untuk mengintervensi siapa yang jadi nantinya.

Lalu bagaimana dengan ormas garis lemah? Ormas lemah tetaplah lemah. Karakter ormas ini memang penakut. Takut kehilangan proyek. Lebih baik mengalir saja seperti air. Padahal air tidak pernah berjiwa penakut. Hehehe ...

Yang menarik adalah ormas moderat. Beberapa pekan ini, publik dapat melihat dinamika Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setyo Novanto, Amin Rais, dan masih banyak lagi yang lainnya.  Entah benar atau salah, dinamikanya agak tersendat karena ada ormas moderat. Apalagi secara sosio-kultur, di Indonesia memang cocok untuk menjadi perajut dengan hadirnya ormas moderat.  Lihat saja lansiran berita yang cukup kuat diantarnya; Aku Indonesia Aku Pancasila, pembubaran HTI, save KPK, hingga Full Day School, Undang Undang Pemilu, ormas moderat tampaknya selalu hadir ruang dan waktu yang cukup tepat. Alhasil, ormas ini cukup dekat dengan penguasa. Mungkin saja, ormas moderat akan semakin dekat dengan pilpres nanti.

Hanya saja, Jakowi harus hati-hati dengan dekatnya ormas moderat.

Mengapa? Publik tahulah ormas moderat juga tidak semua moderat. Memang terkadang bungkusnya lembut, tapi penuh dengan mahar dan lain sebagainya. Mungkin saja, tidak semua ormas moderat juga dirangkul Jakowi. Dipastikan ada gerakan tebang pilih dalam menggandeng ormas-ormas nantinya. Jadi, kKetiga ormas yang ada, ormas garis keras, ormas lemah,  dan ormas moderat, tetap memiliki peran dalam pilpres 2019 nantinya.

Lantas apa hubungannya dengan genre musik Hip Hop?

Jelas sangat berhubungan. Ingat fenomena “Ndeso”. Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh genre Hip Hop. Lebih lagi, ingat juga ramainya jagad youtube dengan lirik lagu Ganteng-ganteng Swag, Bad, hingga Panjat Sosial.

Genre Hip Hop  yang kental dengan sensasi ini dimungkinkan menjadi instrumen kritik sosial menjelas pilpres. Lihat saja lirik panjat sosial;

“Fenomena anak sekarang ye
Hobi pamerin barang ye
Pos di grup WA, SC, IG ye
Demi like dan komen orang ye

Gaul setiap hari wajib nge-path
Artis selebriti dia pepet
Pencitraan ga sesuai daun perak
Pinjem duit dulu kagak malu

Anak nongkrong ibu kota
Amet gosip dan berita
Gayanya sosialita
Uangnya enggak ada
Cari simpati buka kartu cari status baru “ dan seterusnya dan seterusnya.

Cukup tajam lirik lagu di atas. Ada kata kunci; senang pamerin barang, pencitraan, uang nggak punya, dan lain-lain. Lirik ini menjadi penanda bahwa gerakan literasi anak muda Indonesia sudah final terhadap politik pencitraan di medsos. Agama, kecantikan, ketampanan, hingga fashion, tidak lagi menarik saat pilpres 2019 nanti. Kemungkinan, pencitraan pilpres 2019 akan dilawan oleh lirik Hip Hop yang semakin berani tampil menjadi instrumen kritik sosial.

Mengapa Hip Hop yang bukan produk indonesia asli, laris dan diterima?

Jawabnya adalah keberanian lirik Hip Hop  dalam mengingatkan, menyadarkan, hingga memarahi secara halus terhadap praktik jahat dalam meningkatkan derajat, harkat, dan martabat, atau sebut saja panjat jahat.

Lantas hal apa yang menjadi menarik untuk dijadikan komoditas? Dimungkinkan tokoh-tokoh yang bersih akan menghiasai dinamika pilpres 2019. Kemungkinan isu tentang hak angket cantrang, sebatas menjadi buih dalam bibir wakil rakyat saja. Terlebih jika merujuk amanat Mahkamah Konstitusi dengan pemilihan serentak. Jelas ini akan kekuatan lebih yang dimiliki para calon Bupati, Walikota, Gubernur, hingga Presiden dan Wakilnya.  Jelas, dengan pemilihan serentak, semua akan butuh dana. Dana yang biasanya untuk menyuap suara rakyat, dan rakyat juga selalu menanti serangan fajar dari calon, mau tidak mau para pemilik niat calon semuanya, harus menyiapkan dana yang lebih. Mungkin karena ini juga, Ahok menjadi korban awal dari dinamika slilit politik negeri ini. KPK pun sangat mungkin bernasib sama, termasuk yang lainnya.

Jikapun nuansa alur kebijakan politik negeri menjalang pilpres dan pemilihan serentak di kemudian hari adalah melembut, maka siap-siap gerakan genre Hip Hop akan melawan kelembuatan yang semu itu.

Hip Hop hari ini agaknya belum banyak tersentuh dan terkontaminasi oleh dan dengan penguasa. Beda dengan genre dangdut, musik pop, hingga genre musik-musik lokal yang dapat dipesan jauh-jauh hari untuk meraup kepentingan dan lain-lain. Jadi siapapun orangnya yang jahat, akan kena lirik Hip Hop nantinya. Entah siapa hingga siapa, Jakowipun, siap-siap kena liriknya, walaupun Jakowi bdannya kurus. Hehehe....

Maka, dengan tanda-tanda dan bukti di atas, genre Hip Hop menjadi genre musik yang paling ramai menjelang pilpres 2019. Dan kemungkinan genre yang lain akan sejenak meleburkan dirinya mendekati Hip Hop. Yang penting agak mirip. Apalagi kita jarang mementingkan jagad track record musisi kita.

Selamat berkarya, semoga hari esok lebih baik dari hari ini. Maksudnya bukan harinya, tapi adalah pikiran, sikap, dan tindakan kita.

Foto Makanan

Foto Makanan

makan lah sebelum lapar...
berhentilah sebelum kenyang...

ojo lali lawoe neg piring sebelah..

ee... mangan
emangaan neehh ciyaaahh

Jamur urap panggang



Tips Foto Makanan

Tips Foto Makanan

Masakan Khas Jawa (Foto: Papaladin, 2017)
Masih banyak teman-teman kita yang asal-asalan memposting foto makanan. Padahal banyak jutaan orang yang ingin merayakan berbagai hal dengan budaya makan. Yuk bersama-sama, terlebih kalian yang usaha bisnisnya makana.

Ini sedikit tips agar produk makanan kalian laris.

•     siapkan foto
•     siapkan makanan yang akan di foto
•     foto makanan dari atas
•     pastikan kamera tetap stabil agar fotonya jelas
•     kalau perlu, bawa makanan ke luar dan atur posisinya
•     jangan lupa, sebelum foto, bersihkan serbet dan piring kotor agar hasil foto lebih menarik
Pandan Laut

Pandan Laut


Pandan Laut merupakan tanaman endemik yang tumbuh disepanjang bibir pantai utara kawasan Rembang. Tanaman ini tumbuh subur dan lebat dihabibat pasir putih Rembang. Akar pandan mencengkeram dengan kuat, berdaun lebar, dan berbuah eksotis. Sungguh menarik tumbuhan yang satu ini,

Keindahan buah tanaman penjaga pantai ini dapat dilihat pada saat musim kemarau tiba, Masyarakat sekitar biasanya memanfaatkan buah pandan laut untuk obat sakit gigi. Ada juga dimanfaatkan untuk penghalau mahluk halus, Tak hanya akar dan buahnya, daun pandan juga manfaatkan untuk bahan tikar dan bahan tali-temali.

Jika Anda tertarik menikmati panorama pantai dengan eksotisme pandan laut, datang saja di sepanjang pantai Rembang, tepatnya di pantai desa Sumurtawang kecamtan Kragan kab Rembang.


Buah pandan laut 
Akar pandan laut penjaga pantai dari abrasi

Pohon pandan yang sedang berbuat lebat 

Buah pandan yang sudah matang 

Rekayasa Sosial Budaya Ruang Kelas Kita

Rekayasa Sosial Budaya Ruang Kelas Kita

Sumber: https://ekazai.files.wordpress.com/2013/03/2.jpg


“Apapun harinya, bagi sekolah, yang terpenting adalah menjadikan momentum untuk melayani pembelajaran para siswa. Entah itu hari pendidikan, hari kebangkitan nasional, hari kemerdekaan, hingga pentas tradisi sosial lainnya, semua itu dapat dijadikan pintu masuk dalam mencerdaskan generasi muda penerus bangsa Indonesia.”

 
Sekolah-sekolah di Indonesia, sungguh memiliki landasan tradisi yang beragam. Lahir menjadi negara persatuan dan kesatuan, corak multikultural adalah sebuah keniscahyaan. Namun terkadang pendekatan pembelajaran kita cenderung melesat jauh dari basis kultur yang menawan. Sungguh menjadi ironi, bahwa pembelajaran-pembelajaran di sekolah cenderung meninggalkan gerakan kebudayaan. Kasak-kusuk pembelajaran di sekolah hanya sebatas pelengkap administratif semata. Tanpa disadari, kegiatan pembelajaran kita, semakin mengejar sesuatu yang fana tanpa menyinggung pembelajaran sosio-kultur yang penuh makna.

Kita punya tradisi besar menjadi masyarakat kepulauan. Kita pun punya tradisi besar menjadi negara agraris. Tapi kita sampai saat ini masih malu menggunakan tradisi agung tersebut untuk kita jadikan pintu masuk dalam proses pembelajaran. Kegiatan-kegiatan di sekolah seakan dalam posisi kutub yang berseberangan. Kegiatan pembelajaran di sekolah seakan membangun mercusuarnya sendiri, tanpa adanya tanggung jawab pembelajaran kita bersama. Pentas tradisi seakan menjadi tanggung masyarakat semata. Sekolah juga seakan apatis dengan pentas tradisi. Hal ini dapat dilihat tidak ada satupun rasa kewajiban dalam program pengabdian sosial untuk mendukung kegiatan tradisi. Padahal jika pihak sekolah jujur mengakui, keberadaan sekolah tidak lepas dari masyarakat pengikut tradisi nusantara yang besar ini.

Untuk itu, perlu kiranya ada ulasan tentang bagaimana rekayasa pembelajaran berbasis sosio-kultur kita. Namun sebelum membahas hal tersebut, perlu kiranya kita mengidentifikasi berbagai hal kekayaan sosio-kultur kita, diantaranya kekayaan akan alat musik tradisi, kekayaan pakain adat nusantara, keragaman tarian adat nusantara, kekayaan rumah adat daerah kita,  hingga ragam hasil bumi dan laut yang dimiliki oleh bangsa kita, bangsa Indonesia. Kekayaan sosio-kultur ini menjadi penting untuk kita miliki bersama, karena dengan hasil kebudayaan kita tersebut, kita semakin bangga dengan diri kira, bangga menjadi bangsa Indonesia, sebuah bangsa besar yang hingga saat ini masih berdiri kokoh dalam ikrar kita, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

A.      Kekayaan Nusantara

1.       Kekayaan Alat Musik Nusantara

Masihkan ruang kelas kita isi dengan ragam alat musik tradisional bangsa Indonesia? Sebagian besar jawabnya tidak. Kita harus jujur bahwa ruang kelas kita cenderung kita fungsikan sebagai ruang expo hasil teknologi import. Alat  musik mulai dari gambus, sasando, panting, angklung, suling, siter, kenong, rebab, gong, bende, kecapi, gendang, bonang, serunai, tuma, kolintang, kecapi, cengceng, lado-lado, rifai, doli, tifa, hingga marwad, hanya menjadi koleksi domain youtube semata. Ruang kelas kita semakin keras dengan seabrek isi kabel-kabel dan sinyal wifi. Namun sayangnya, akses komunikasi tanpa batas ini semakin jauh dari kekayaan alat musik tradisional. Ruang kelas kita semakin sepi dari denting  musik tradisi. Padahal alat musik tradisi yang kita miliki inilah, menjadi bukti nyata akan keagungan peradaban seni bangsa Indonesia. Sehingga wajar jika ruang kelas kita semakin padat dengan informasi yang hoak tanpa ada pihak yang bertanggung jawab terhadap itu semua.

2.       Kekayaan Tarian Adat Nusantara

Selanjutnya adalah kekayaan kita akan tarian adat nusantara. Saat ini, ruang kelas kita sangat sepi dengan pentas tari tradisi. Ekspresi tradisi yang penuh dengan arti ini semakin jauh dari mata para siswa di negeri ini. mungkin hanya pada saat moment acara pelepasan siswa saja, pentas tarian itu digelar ,itupun hanya sebatas pentas tari etnosentris belaka. Adapun pentas tari tradisi lainnya, tetap terlelap dalam tumpukan buku di rak perpustakaan. Regam tari tradisi yang kita cukuplah banyak. Mulai dari tari seudati, tor-tor, payung, bekhusik, tandak, melemang, sekapur sirih, bidadaei, campak, melinting, yapong, merak, topeng, bambangan cakil, srimpi, remo, legong, lenggo, gareng lemeng, monong, gong, tambun dan bungai, jepen, baksa kembang, maengket, polo-polo, kipas, lumense, balumpa, lampa, lenso, soya-soya, eta’e wosi, hingga tari selamat datang, kita punya. Kita tidak pantas memposisikan tarian tradisi tersebut adalah lepas dari pembelajaran di ruang sekolah kita. Pentas tarian di atas adalah milik bangsa Indonesia, adapun pemilik asal adalah masyarakat Indonesia yang wajib kita hargai dengan mementaskannya, bukan mencibir apalagi menghalau lepas dari proses pembelajaran di sekolah kita. Bukankan dengan tarian-tarian tersebut, karakter dan identitas kemajmukan bangsa Indonesia menjadi ada? Untuk itu sudah saatnya ruang kelas kita menjadi ruang pentas kekayaan tarian bangsa.

3.       Kekayaan Rumah Adat Kita

Ragam kekayaan yang sungguh berharga adalah rumah adat nusantara. Sungguh unik jika dalam ruang kelas kita, dipayungi oleh ragam rumah adat nusantara. Sungguh istimewa jika bangunan utama sekolah kita adalah petanda dari karakter rumah adat dari masing-masing dimana sekolah tersebut berdiri. Namun pada kenyataannya sungguh berbalik. Bangunan kelas kita semakin jauh dan perlahan menjauh dari model bangunan rumah adat nusantara. Entah mengapa hal ini terjadi. Apakah hal ini dipengaruhi oleh pejabat sekolah atau hingga para pemangku kebijakan pendidikan nasional Indonesia. Tidak satupun standar operasional prosedur dalam membangun ruang kelas kita, melibatkan arsitektur rumah adat nusantara. Seakan semua seiya sekata, yang penting bangunan tersebut menyerupai ruangan kelas eropa, dipandang sudah menjadi sekolah yang ramah dari segalanya. Yang penting sesuai dengan rancangan anggaran pembangunan, maka berdirilah ruang sekolah kita.

Sungguh sangat indah jika sebuah sekolah menjadi laboratorium rumah adat nusantara. Secara struktur, melalui pemerintah dan macam produk hukum yang ada, bangsa Indonesia sangat mudah memiliki sekolah berbangun rumah adat nusantara. Semua bentuk rumah adat nusantara dapat kita pilih dan pilah sesuai ketersediaan bahan baku yang ada. Mulai dari rumah adat aceh, balai batak toba, rumah rakit, rumah rakit, rumah gadang,rumah selaso jatuh kembar, rumah panggung, nuwo sesat, rumah limas, bubungan limas, joglo, kasepuhan, rumah pewaris, rumah bentang, rumah panjang, rumah lamin, banjar, mamasa loko, bolaan mongondow, rumah sauraja, laikas, tongkonan, rumah natah, loka samawa, mosa logitana, rumah baileo, hingga rumah honai, dapat kita adopsi untuk model ruang kelas sekolah kita. Urusan bagaimana model arsitekturnya, ini menjadi menjadi daya tarik tersendiri. Dengan model ruang kelas berbasis rumah adat, setidaknya sekolah kita telah menjadi ruang diskusi kebangsaan, karena sekolah telah melepaskan diri dari ego kesukubangsaan. Dengan model sekolah yang demikian, inilah yang sebenarnya menjadi sekolah rujukan standar nasional. Bukan sebaliknya, bangunan sekolah kita cenderung milik bangsa luar, hanya semata-mata mengejar sekolah rujukan hingga berstandar internasional.

4.       Kekayaan Pakaian Adat Kita

Selanjutnya adalah ragam pakaian adat yang dimiliki masyarakat nusantara kita. Pakaian adat merupakan busana identitas yang biasanya dikenakan saat berinteraksi satu sama yang lain. Selama ini pakaian adat lebih kental kental saat acara pernikahan berlangsung. Selepas dari moment-moment tersebut, pakaian adat nusantara jarang dikenakan. Mengingat pakaian adat adalah salah satu kekayaan bangsa Indonesia, dimana pakaian adat telah berposisi dan berperan penting dalam membangun karakter bangsa Indonesia, maka pakaian adat nusantara sangat strategis digunakan untuk busana seragam sekolah kita. Bukan berarti merendahkan seragam sekolah saat ini yang memiliki semangat kesetaraan, namun perlu diingat bahwa merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat melalui pengenalan pakaian adat nusantara sejak dini. Hanya saja kita cenderung sudah nyaman dengan dalih kesetaraan terhadap pengenaan seragam sekolah saat ini. Terlebih bahan busana seragam sekolah saat ini telah berelasi dengan lembaga bisnis konfeksi, dan telah menjadi komoditas bisnis pihak-pihak sekolah di negeri nusantara saat ini.

Kita punya apa? Kita punya busana adat yang anggun seperti busana adat sulawesi tenggara, sulawesi tengah, dan busana adat DKI Jakarta. Kita punya busana yang artistik seperti busana adat  sumatera selatan, jambi, lampung, bali, dan busana adat kalimantan,. Kita punya busana adat yang heroik seperti busana adat papua barat, papua, kalimantan utara, kalimantan tengah, kalimantan timur, dan busana adat kalimantan barat. Kita punya busana yang simbolik seperti busana adat jawa tengah, DI Yogyakarta, dan busana adat jawa barat. Dan kita juga punya busana yang adaptif seperti busana adat madura, riau, kepulauan riau, dan masih banyak karakteristik busana adat yang dimiliki nusantara ini. Ragam busana adat ini sungguh kaya untuk refensensi busana sekolah anak-anak kita.

Jika kita berani membuka diri dengan kekayaan busana adat kita, kita tidak akan kehilangan kekayaan busana adat kita. Kita tidak lagi dihegemoni dengan pemodal konfeksi dan tren fashion yang kerap kali kapitalis dan meminggirkan kekayaan lokalitas bangsa kita ini. Tren  fashion para siswa kita sungguh telah dikendalikan oleh tren fashion yang jauh dari filosofi busana nusantara. Sehingga dengan memberanikan diri menggunakan busana adat nusantara kita, maka sama halnya kita telah menghormati dan manghargai, dan yang lebih penting telah mengenalkan nilai-nilai sosial budaya yang agung yang bersemayang dalam busana adat nusantara.

B.      Rekayasa Ruang Kelas Kita

1.       Rekayasa Alat Musik Nusantara Dalam Ruang Kelas Kita

Menjadikan ruang kelas menjadi pentas alat musik tradisional bangsa Indonesia. Sudah saatnya pembelajaran kita hadirkan dengan memulai petikan alat musik tradisi. Begitu indah ruang kelas kita, jika itu semua terjadi. Ruang kelas kita benar-benar menjadi milik kita, bukan ruang kelas yang dikendalikan oleh perkakasan tekonologi import yang cenderung menguras devisa kita. Selain itu, alat musik tradisi dapat menjadi media pembelajaran pada mata pelajaran yang relvan. Misal, dalam pembelajaran fisika, kita dapat menggunakan media sasando untuk memahami bunyi-bunyian. Tentu bukan semata-mata bunyi-bunyain yang meninabubukkan para siswa. Namun bunyi-bunyian yang membangunkan daya pikir kritis kita untuk tetap merajut bunyi kesatuan dan persatuan.

2.       Rekayasan Tarian Adat Nusantara Dalam Ruang Kelas Kita

Lantas bagaimana menggunakan materi tarian adat menjadi bagian dari kurikulum ruang kelas sekolah kita? Kita sadari atau tidak, kita dilahirkan menjadi bangsa yang penuh dengan talenta seni. Namun dalam pembelajaran di kelas, kita selalu malu-malu mengakui hal tersebut dengan bukti bahwa pentas tarian tradisi nusantara sangat langka menghiasi dinamika pembelajaran di ruang kelas sekolah kita.  Kita sungguh tidak mengakui walaupun banyak jurusan ilmu sosial menjadi pilihan para siswa kita, namun ragam keilmuan yang kita berikan, belum memberi warna dan karakter masyarakat Indonesia. Untuk itu, ruang kelas kita harus kita ambil alih. Ini kelas milik kita. Ini para siswa adalah generasi penerus kita. Jadi sudah saatnya, ragam tarian tradisi yang penuh makna ini menjadi  karakter kita dalam bersikap dan bertindak. Sudah saatnya ragam tarian tradisi menjadi media dalam menghantarkan materi pembelajaran di kelas. Sudah saatnya pembelajaran kita memberi ruang dalam membedah apa yang termaktup dalam tarian tradisi milik kita. Secara fungsional, tarian tradisi dapat kita pentaskan di ruang kelas kita menjadi wujud ekspresi senang, keprihatinan, kedewasaan, kesetiakawanan sosial, hingga ketaataan menjadi bangsa yang religius sekaligus berjiwa seni yang mapan. Secara teknis, tarian tradisi dapat kita pentaskan pada mata pelajaran seni, olahraga, moment pertemuan wali murid, moment pelepasan siswa, peringatan nasional, moment penjaringan siswa baru, hingga partisipasi pentas seni pada kegiatan sosial budaya pada masyarakat di sekitar sekolah itu berada. Dengan demikian, tarian tradisi tidak hanya kita miliki di atas kertas saja. Melalui tindakan tersebut, tarian tradisi menjadi milik kita. Kita miliki karena kita kuasai.  

3.       Rekayasa Rumah Adat Dalam Ruang Kelas Kita

Secara umum bahan dasar rumah adat nusantara adalah berbahan kayu, batu, tanah bakar, dan dedaunan kering. Selebihnya adalah berbahan pasir dan sedikit pasak besi untuk penguat saja. Dengan iklim tropis dan kaya akan tumbuhan dan batuan, sebenarnya bahan baku bangunan kelas bercitarasa rumah adat nusantara, adalah sesuatu yang sangat mudah diwujudkan. Kita punya hutan luas yang kayunya dapat kita gunakan untuk bahan utama bangunan kelas kita. Tinggal keberanian dan pilihan kita saja, alasan yang untuk memupuskan rencana besar ini, sifatnya hanya mengada-ada. Modal sosial kita dalam mewujudkan bangunan kelas bernuansa rumah adat pun luar biasa besarnya. Setiap sekolah benar-benar akan menjadi milik masyarakat, karena para tukang rumah adat dapat dilibatkan sedemikian rupa. Terlebih, corak rumah adat nusantara adalah ramah bencana. Tentu lebih sedikit resiko rusak karena fenomena gempa. Untuk itulah, model rumah adat nusantara dapat kita gunakan secara formal untuk bangunan ruang kelas kita.

Dengan aristektur rumah adat pada ruang kelas kita, semua suku bangsa yang sekolah, seakan-akan dirumahnya sendiri. Para siswa tidak lagi berkendala shock-kultur yang ditandai sulit beradaptasi dalam pembelajaran mereka. Selain itu, sekolah kita dapat menjadi ruang-ruang kelas yang penuh dengan nasionalisme, kesetiakawanan nasioanal, hingga mimpi-mimpi indah dalam memuliakan semua manusia yang ada di sekolah. Sekolah kita menjadi rumah kita, yaitu rumah bangsa Indonesia.

4.       Rekayasa Busana Adat Dalam Ruang Kelas Kita

Lantas bagaimana memanfaatkan busana adat nusantara yang luhur ini dalam dinamika ruang kelas sekolah kita? Secara teknis, penggunaan busana adat disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah masing-masing. Tanpa menghapus seragam sekolah yang ada, busana adat dapat digunakan menjadi seragam sekolah secara situasional. Contoh pada hari tertentu, siswa diharapkan menggunakan pakaian adat secara beragam. Tanpa ada paksaan, para siswa dibebaskan memililh busana adat mana yang disukainya. Dengan demikian, maka akan terwujud keragaman busana adat yang dikenakan para siswa, tentu termasuk pada gurunya.

Busana adat juga dapat digunakan secara moment-moment tertentu dalam rangka merawat keberagaman Indonesia, misal saat peringatan hari sumpah pemuda, peringatan hasi kebangkitan nasional, peringatan hari kemerdekaan nasional, dan lain-lain. Jika ini semua telah terpola, maka keragaman atas dasar sosial budaya tidak lagi rentan menjadi jurang pembeda.

C.      Tantangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kita

Apapun namanya dari kekayaan sosial budaya Indonesia, pada dasarnya semua yang kita punya, adalah alat perajut generasi muda untuk merawat keberadaan negara kesatuan republik indonesia. Kita punya tarian adat nusantara, harusnya kita gunakan untuk merawat negara kesatuan republik indonesia. Kita punya alat musik nusantara, harusnya kita gunakan untuk merawat negara kesatuan republik indonesia. Kita punya pakian adat nisantaranya, harusnya kita gunakan untuk merawat negara kesatuan republik indonesia. Dan begitupun rumah adat nusantaranya, kita harus gunakan untuk merawat negara kesatuan republik indonesia.


Untuk itu, berghubungan dengan keberadaan menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia, sang menteri harus selalu memberi ruang dialok kebangsaan di setiap sekolah di Indonesia. Mulai dari tarian, rumah adat, alat musik, hingga pakaian adat, merupakan prasarat yang harus dihadirkan setiap rencana pendidikan oelh menteri pendidikan dan kebudayaan kita. Janganlah mengaku menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia, jika tidak mampu melakukan rekayasa ruang kelas sekolah kita dengan pendekatan sosial budaya khas Indonesia. 
Berkunjung  di  Desa Pakis Kecamatan Sale

Berkunjung di Desa Pakis Kecamatan Sale

Buah Kelapa desa Pakis (Dok. Pribadi, 2017) 
Sore tadi, saya bersama teman-teman pegiat dokumenter Komunitas Rumah Baca,  jalan-jalan ke arah selatan kawasan Rembang. Bersama mas Adit, dan mas Bodor, kali ini tidak dengan mas Mufid karena ada acara dengan pacarnya, kami mengunjungi desa Pakis kecamatan Sale.

Agak sedikit lelet sore itu, pukul 14.30 wib lebih sedikit, kami bertiga meluncur dengan dua sepeda buntut. Setahun yang lalu kami juga berkunjung ke desa sentra kelapa ini.

Tampak perubahan disana-sini. Akses jalan menuju desa ini cukup kentara. Pembukaan akses jalan baru menuju persawahan desa pun sedang dikerjakan. Semoga Pemerintah Daerah Rembang semakin perhatian dengan pembangunan desa-desa bagian selatan, semakin meningkat, tanpa putus, dan berkelanjutan.

Panorama alam desa Pakis cukup menarik untuk menjadi bidikan kamera dokumenter kami. Setelah kami menyusuri jalan berkelok tajam dan mendaki, setelah melintasi deretan desa di atas roda angin, kami pun disuguhi dengan deretan kampung desa Pakis yang eksotis. Sesekali sekawanan ternak dengan rapi melintas, spot deretan rumah kampugn Pakis ini tidak lepas dari bidikan dokumentasi kami. Deretan rumah itu sepintas berjajar seirama dengan altar pegunungan Pakis. Lambai daun kelapa yang membentang luas, seakan tampak membangun alur persawahan terasering yang subur dan asri.

Desa dengan sentra hasil bumi buah kelapa ini, tampak menjanjikan sekali. Disetiap sudut jalan utama yang menghubungkan jalan pertanian dan persil, terdapat tumpukan buah kelapa muda yang siap didistribusikan ke kawasan Pamotan, Lasem, dan Rembang kota. Di bulan puasa ini banyak pesanan buah kelapa muda, ungkap petani desa Pakis, di saat sembari bercengkerama dan menemani mas Adit dan mas Bodor mengambil lanskap bumi Pakis yang indah ini.

Usai mengambil spot deretan rumah dan kebun kepala, kami bergegas menaiki perkampungan desa. Setiap langkap kami, serasa beriringan dengan sapa ramah penduduk. Kampung desa Pakis ini cukup rapat. Sekitar empat ratus rumah lebih, bangunan rumah telah berdiri. Dahulu, tahun 1967 perkampungan ini hanya didiami seratus tujuh belas rumah saja. Mereka adalah keturunan dari keluarga simbah Soko.

Menurut cerita, simbah Soko berasal dari daerah Pamotan, tepatnya dari Samaran. Sebagian besar, penduduk desa ini memiliki hubungan alur genetik dengan simbah Soko. Cerita lisan yang berkembang, nama Soko selalu berhubungan dengan keberadaan pohon soko yang saat di tengah kampung. Suatu ketika, pertama kali orang yang buka lahan di desa Pakis ini membuat sumur. Orang tersebut kemudian menancapkan tongkat yang terbuat dari dahan kayu soko ke dalam sumur. Dan singkat cerita, kemudian tongkat itu tumbuh menjadi pohon soko yang hingga sekarang masih kokoh berdiri.

Perihal asal usul nama desa Pakis, cerita rakyat yang berkembang menuturkan bahwa nama pakis berasal dari banyaknya vegetasi pohon pakis. Dahulu, pohon pakis itu tumbuh berderet dengan rapi membentuk alur jalan kawasan pegunungan di kawasan Rembang bagian selatan ini. Keberadaan pohon pakis inilah, tersebutkan kawasan ini dengan sebutan pakisan, yang kemudian istilah pakisan ini menjadi identitas desa hingga digunakan menjadi nama desa, yaitu desa Pakis.

Pola pemukiman desa Pakis cenderung memusat dan memanjang di atas altar persawanan nan subur. Tata rumah menyesuaikan dengan kondisi alur pemukiman berundak. Masyarakat desa membangun lahan untuk mendirikan kampungnya dengan deretan tebing bertata batu. Batu-batuan tersebut ditata dengan rapi menyerupai tembok memanjang seiring alur panjang jalan yang membentuk halaman depan perumahan kampung. Batu-batu itu didapatkan dari sebaran material yang ada di tanah kebun mereka. Dengan semangat, penduduk Pakis memuliakan sebaran batu itu, dengan membawanya ke rumah. Selepas itu, areal kebun yang telah rapi, siap untuk ladang tani padi. Inilah sebabnya mengapa di perkampungan ini berlimbah batu dan berdaya padi.

Batu-batuan tersebut tertata dengan rapi. Tanpa sedikit hawatir, walau batu tanpa balur pengikat, tatanan batu terbukti kokoh dan tentang. Arah mata anginpun berhembus hingga ke latar rumah, setelah menembus barisan batu penegas halaman depannya.

Tatanan batu yang ada telah menjadi penentu alur jalan setapak penghubung antar rumah penduduk. Disela-sela ruang terbuka depan rumah penduduk, tumbuhlah pohon pisang dan pohon kelapa. Dengan ramah seakan menyatu membentuk kawasan kampung berlimpah hasil bumi. Pisang-pisang itu bertandan searah cahaya pagi. Dan tidak lebih dari setengah meter, batang kelapa itu telah berbuah dengan lebatnya.

Semakin kami menaiki perkampungan dengan altar pegunungan Tapak yang gagah ini, semakin kami terpukau. Lanskap perkampungan desa tampak asri saat diintip dari sudut puncak sawah terasering itu. Sore tadi, di-iringi dengan lantunan kitab suci dari surau dan masjid, menambah suasana tenang dan damai di bulan puasa desa ini. Tak satupun spot alam tertinggal dari perhatian mas Adit dan mas Bodor. Mereka berdua bergantian mendokumentasikan suasana asri di sore tadi.

Samakin menaiki, semakin terasa sejuk kampung ini. Tampak jelas, deretan awan kabut berarak melintas pelataran kampung. Bentang awan itu semakin jelas batasnya, saat dilihat dari bingkai bukit gunung Tapak. Kami bertiga sangat cukup menikmati keasrian desa ini. Nuansa yang sejuk dan damai, terlihat dari pojok sawah kampung yang sedang tumbuh tanaman jagung dengan tumpang sari kacang hijau yang sedang kuncup ini.

Selepas mendokumentasikan spot kampung dari altar sawah, kami di ajak mas Sareh dan adik bungsunya (pemuda desa Pakis yang sebelumnya kami kenal tiga tahun yang lalu), menuju kebun kelapa milik orang tuanya. Menyusuri jalan setapak, sampailah kami di kebun kelapa yang terhampar luas. Panorama kebun kelapa itu menyatu dengan petakan sawah terasering. Tumbuhan padi itu beliuk dengan batas pematang yang tumbuh pohon kelapa. Kami cukup terpukau, tampak seperti dalam lukisan. Suasana desa dengan sawah berhampar luas, padi yang menguning, pohon kelapa yang berjajar rapi, dan latar pegunungan nan asri.

Kami pun segera berjalan membelah di atas pematang sawah menuju pohon kelapa. Dengan terampil, mas Sareh tanpa ragu memanjat pohon kelapa. Satu persatu buah kelapa muda itu dipetik disela-sela pelepah pohonnya. Sungguh tampak terlatih saat memanen buahnya. Buah itu dipetik dan dijatuhkan satu persatu pada semak pohon. Seiring dengan lambai nyiur daun kepala, buah itu bersandar tepat pada posisinya. Kamera mas Adit pun dengan semangat mendokumentasikannya.

Tak lama kemudian, mas Sareh turun dari pohon kelapa. Tapak kaki dan pohon kelapa itu seakan berdamai. Tanpa salah sedikitpun, telapak kakinya tepat mengangkangi pohon kepala.

Bergegas kami berlima menuju rumah mas Sareh. Sore itu kami di ajak menyusuri jalan pertanian yang baru dikerjakan. Benar-benar baru akses jalan sore itu. Bahkan material batunya tampak masih baru. Pelan namun pasti, perjalanan menuju rumah mas Sareh harus berbagi dengan pengguna jalan yang lain. Karena pada saat yang sama, penduduk desa juga sedang menikmati sejuknya kampung halaman. Sesekali kami menyapa, mereka bergegas melempar senyum. Seakan penduduk itu sedang menanti suara adzan magrib dengan hikmat, dimana saat makan dan minum menjadi nimat dan tanpa merasa bersalah.

Penyambutan keluarga
Saat saat menunggu beduk dengan kelapa muda
Menyruput es kelapa muda
Asatnya ritual asap
Sego jagung kampung pakis
Oseng kates berlimpah cabe
Sholat setelah kenyang
Masjid baru jamaah lama
Cerita masa dengan pemilik tales manis
Pamit untuk menulis
(tulisan sementara putus, karena tiba-tiba banyak pengunjung di rumah baca)


Pamotan, 14 06 2017

Tahu Diri, Sebuah Aset Bangsa Yang Terpinggirkan

Tahu Diri, Sebuah Aset Bangsa Yang Terpinggirkan

Harus hati-hati ketika bermain-main dengan ideologi negara. Barang satu ini cukup sensitif. Apalagi relasi ideologi cukup terbuka dengan eksistensi NKRI. Salah sentuh saja, tanah dan rakyat menjadi taruhannya.

Sekarang, 01 Juni, tepat peringatan lahirnya ideologi negara Indonesia, Pancasila, dibumikan kembali. Terlepas kontroversi tepat tidaknya waktu peringatannya, hari ini adalah momentum paling yahut dalam mendedahkan kembali pentingnya merajut kembali ideologi kita dalam berbangsa dan bernegara. Apapun ekspresi peringatannya, mulai dari upacara, tumpengan, diskusi, hingga sarasehan di warung kopi hingga di panggalan ojek, kita sebagai warga negara Indonesia patut mengapresiasi dan menghormatinya. Ekspresi peringatan ini adalah bentuk nyata dalam merawat bangsa dan negera Indonesia. Semua elemen masyarakat dan kelompok sosial harus memuliakannya.

Selaku warga negara Indonesia, kita patut sangat berterimakasih kepada para Tokoh Bangsa, para Pejuang pembela tanah air, hingga para guru kita. Melalui mereka yang Terhormat, kita sungguh merasakan hidup cinta damai di negeri Indonesia tercinta. Atas nama kedamaian dan ketenangan hidup di Nusantara ini, tugas kita tak lain adalah merajut dan merawat kembali, rasa berbangsa dan bernegara Indonesia.

Perihal dinamika yang terjadi baru-baru ini, patut kita merenung terhadap perilaku saudara-saudara kita yang disangka berlawanan dengan ideologi Pancasila.  Siapapun dan apapun yang berada di Indonesia,  harus tahu diri. Keberadaan kita, termasuk pikiran sikap dan perilaku kita, tidak dapat lepas begitu saja dengan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan momentum hari lahir Pancasila, Ideologi Pancasila harus kita pandang menjadi satu kesatuan, bukan sebuah ideologi terpisah. Ideologi Pancasila adalah kesatuan Indonesia itu sendiri. Sehingga memisahkan Pancasila sama halnya dengan sadar memisahkan bangsa Indonesia.

Pemerintah, partai politik, dan kelompok sosial lainnya harus tahu diri. Pancasila adalah milik Indonesia. Tidak elok jika Pancasila dijadikan komoditas politik. Semua instrumen bangsa ini harus tahu diri, bahwa peranan kita adalah mewujudkan cita-cita bangsa Indoensia, yaitu masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Apakah peranan kita telah mewujudkan keadilan Indonesia? Apakah peranan kita juga telah mewujudkan kemakmuran Indonesia? Dua pertanyaan ini harusnya menjadi bahan renungan dalam momentum peringatan hari lahir Pancasila.
Kita tidak akan selesaikan menjadi bangsa yang dewasa, jika pikiran sikap dan laku kita hanya dengan bermain-main dengan ideologi negara. Entah apa yang terjadi, jika pemerintah, partai politik, dan kelompok sosial selalu meributkan Pancasila. Pemerintah, partai politik, dan kelompok sosial harus tahu diri bahwa peranannya adalah mewujudkan keadilan dan kemakmuran bangsa Indonesia.

Pemerintah tidak boleh anti kritik terhadap capaian keadilan dan kemakmuran. Partai politik tidak boleh serampangan dalam menyusun instrumen keadilan dan kemakmuran. Begitupun dengan kelompok sosial, harus hati-hati dalam menyiapkan generasi yang akan datang, dalam memahamkan sikap kebangsaan dan ke-Indonesiaan.

Momentum perayaaan hari lahir Pancasila ini harus kita sikapi dengan ekspresi tahu diri. Janganlah kita pinggirkan sikap tahu diri kita, karena sesuatu yang tidak jelas. Subtansi perayaaan hari lahir Pancasila adalah dua. Pertama, apakah kita sudah berperilaku mewujudkan keadilan sosial. Kedua, apakah kita sudah berperilaku mewujdukan kemakmuran sosial. Kalau belum, kita harus malu.

Selamat hari lahir pancasila
Selamat mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia
Salam Adil, Salam Makmur.

Sumber: http://www.kompasiana.com/es_lodheng/tahu-diri-sebuah-aset-yang-terpinggirkan_592f06513497731e222b6f73


 Dokumen Berita SD Sepi Peminat

Dokumen Berita SD Sepi Peminat

Dokumen berita SD Negeri Sepi Peminat ini dikumpulkan dari beragam media online. Data dikumpulkan pada tanggal 31 Mei 2017.

Dokumen ini sepenuhnya digunakan untuk bahan menulis tematik “SD: Aset Bangsa Yang Terpinggirkan”

Silahkan DOWNLOAD
Minimnya Teks Hijau Dalam Kurikulum Kita

Minimnya Teks Hijau Dalam Kurikulum Kita

Sumber: http://www.kompasiana.com/es_lodheng/minimnya-teks-hijau-dalam-kurikulum-kita_591101b6c8afbd13048b456a

atau klik link berikut ini 

“Tampaknya pembelajaran kita semakin memihak dengan sumber teks yang kering. Minimnya teks hijau sebagai inspirasi dalam pembelajaran tak lagi menghiasi sumber belajar di bangku sekolahan. Mungkinkah ini petanda bahwa pesan pembelajaran kita semakin memberi jarak antara manusia dengan beningnya air kita? Mungkinkah juga ini menjadi tanda bahwa pesan pembelajaran kita semakin membangun jurang pemisah antara manusia dengan keasrian bumi kita?”


Secara struktur, sistem pendidikan kita cenderung ter-arah pada penggunaan teks-teks pembelajaran yang kering. Tersebut sejak dalam UU No 2 tahun 1989 yang hanya menekankan pada kajian ilmu bumi. Sedangkan kajian tentang tentang ilmu air dan kekayaan alam kita, tidak termaktub dalam kurikulum, tepatnya pada pasal 39.

Masih dalam struktur kebijakan pendidikan nasional kita, pengenaan teks-teks berdaun kering semangkin kentara. Hadirnya UU No 20 tahun 2009, telah semakin berani menghilangkan diktum kajian ilmu bumi. Hal ini dapat dilihat pada pasal 36 dan 37, yang lagi-lagi tetap konsisten dengan peniadaan kajian ilmu air dan kajian ilmu kekayaan alam dari kaidah-kaidah sistem pendidikan pendahulunya.

Berangkat dari kebijakan struktur inilah, teks sumber belajar di bangku sekolah, semakin terkebiri dengan sentuhan teks sumber belajar yang mengkaji tentang bumi, air, udara, dan kekayaan alam yang ada di dalamnya. Dan hal ini dapat ditafsirkan lebih jauh, tampaknya ada rekayasa, bahwa sistem pendidikan kita telah memutus keterhubungan dengan pasal 33 dan pasal 34 UUD 1954. Jika pasal 33 dan 34 merupakan konsekwensi dari tujuan didirikannya negara Indonesia, seharusnya, sistem pendidikan kita harus lekat dengan teks sumber belajar tentang bumi, air, udara, dan kekayaan alam yang ada didalamnya.

Berdasar dari cara berfikir di atas, maka wajar, jika hasil lulusan sekolah kita, cenderung tidak memahami hakikat kebermanfaatan keilmuannya. Ilmu yang di dapat dari bangku sekolah, cenderung tidak menyuburkan tanah air kita. Dan wajar, jika lulusan-lulusan sekolah kita, cenderung mengeksploitasi kekayaan alam, tanpa berlandasan terhadap pasal 33 dan pasal 34. Artinya, yang penting mereka kerja dan dapat uang. Adapun tanggung jawab sosial terhadap fakir miskin adan anak yatim yang harus sejahtera bersama-sama, lepas begitu saja.

Untuk itu perlu ditawarkan model pembelajaran teks hijau. Pembelajaran teks hijau yang dimaksud adalah pembelajaran yang menekankan pada kegiatan membaca literatur ilmu bumi, ilmu air, ilmu udara, dan ilmu-ilmu yang mengkaji tentang kekayaan alam kita yang ada didalamnya. Proses pembelajaran model pembelajaran teks hijau dapat dilakukan dengan cara model kunjungan. Sudah saatnya para Guru mengajak para muridnya ke atas gunung untuk memahami bumi. Sudah saatnya guru-guru kita membawa ke tengah laut dan ke sumber mata air, agar para siswa kita memahami air. Bawalah muridmu ke atas awan agar mereka memahami makna udara. Dan juga, para guru sudah saatnya mengajak anak didiknya untuk mengidentifikasi kekayaan alam kita yang mewah anugerah Tuhan Yang Maha Esa. 

Lantas ke arah mana pesan dari model pembelajaran teks hijau? Model pembelajaran teks hijau harus dan berpangkal pada kebermanfaatan ilmu untuk kesejahteraan bersama. Pangkal pesan pembelajaran teks hijau juga, harus menghasilkan lulusan-lulusan yang memiliki tanggung jawab sosial terhadap fakir miskis dan anak terlantar. Bukan sebaliknya, lulusan-lulusan sekolah kita hanya mengejar dan menumpuk kekayaan, karena adanya kehawatiran yang terlalu dalam ketika negara tidak mampu menanggung kesejahteraan dirinya dan keluarga dekatnya.

Mari kita bersama-sama meneguhkan kembali bahwa tujuan pendidikan kita adalah untuk mencerdaskan bangsa Indonesia yang mampu menciptakan dan menjaga keadilan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.