Isyu Lingkungan Pilbub Rembang 2010

Isyu Lingkungan Pilbub Rembang 2010

AKAR KONFLIK MATA AIR PAMOTAN
Oleh: Suhadi Rembang

Kemandirian air di Pamotan?


Pamotan tempo dulu merupakan kawasan ijo royo-royo, gemah ripah loh jinawe. Masyarakat rembang menyebutnya sebagai dhodho menthoe rembang (lumbung pangan rembang), seperti halnya kawasan Kecamatan Sale dan Kecamatan Gunem. Pamotan terkenal adem-ayemnya. Banyak pegawai Negara saat itu yang betah di kawasan ini, hingga beranak pinak dan bersatu-padu menjadi warga Pamotan.


Gbr. Air keruh di Sungai Mungulan Pamotan Rembang Jawatengah, doc 2010

Mata air pamotan tempo dulu berlimpah. Air mengalir dari sudut-sudut lokasi yang rimbun dan asri yang dikelilingi pohon-pohon besar. Masyarakat pamotan saat itu tidak merasakan kekhawatiran akan kekurangan air. Hal ini jauh dengan keadaan sekarang, masyarakat pamotan sedang disibukkan kegundahan hati. Terlihat para petani yang harus berlari mengejar air hujan untuk menggarap sawahnya, istilahnya petani pamotan sekaran grusa-grusu (jika ada hujan langsung menggarap sawahnya), kalau dulu angin-anginan (santai, tapi pasti dapat air). Saat dulu, petani disibukkan menutup mata air (thuk) karena harus menanam tanaman polowijho setahun sekali, disela-sela panen padi tiga kali. Sekarang, petani sibuk mencari dan membuka mata air untuk menanam padi.

Potret pamotan tahun 1982-an, merupakan kawasan desa tani yang menyenangkan. Saluran irigasi masih tampak lebar. Pendangkalan saluran irigasi masih belum tampak. Debet air juga relatif sangat tinggi. Curah hujan juga terhitung masing tinggi. Hujan turun pada awal bulan September hingga bulan Maret. Selebihnya adalah musim kemarau pada bulan April hingga Agustus. Daerah tangkapa sungai masih sangat luas. Terlebih tingkat perilaku perusakan alam relatif tidak ada. Komoditi padi, jambu mete, mangga, pisang, dan ragam buah-buahan menjadi unggulan hasil tani kawasan Pamotan. Namun seiring berjalannya waktu, problem air untuk irigasi menjadi rendah. Mengapa demikian? Masalah tersebut di atas berhubungan dengan eksplorasi mata air Pamotan.

Sejarah air perpipaan Rembang


Pada tahun 1928, Belanda membangun jaringan perpipaan air pertama kali di Rembang, berasal dari mata air Kajar Kecamatan Lasem. Pada saat itu mata air kajar berjumlah dengan debet 7 liter/detik (sekarang 1 liter/detik). Dengan jumlah tersebut, dialirkan melalui perpipaan untuk kebutuhan air penduduk di kawasan Lasem dan Rembang Kota. Dari keterangan tersebut dapat diketahui awal dari cikal bakal teknologi distribsi air perpipaan di Rembang. Seiring bertambahnya kebutuhan air, bersambung ...

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama